kalo seandainya gagal lagi….

November 3rd, 2009 by ayieph

gwe sedang menjalani hidup yang entah kemana arahnya…kadang merasa seperti bisa, tapi terkadang malah ga bisa sama sekali…kalau seandainya gagal lagi, mudah2an masih ada kesempatan…jangan sampai 3 kali gagal karena kesempatan cuma 3x katanya….tapi semuanya belum selesai…gwe harus membackup kekurangan gwe…

“mah pah ki is, doain aku yahhhh….paling ga aku dah usaha….ini cuma masalah kecengengan aku aja….”

luv u all!

Dan kuingin kau mengerti….

November 3rd, 2009 by ayieph

setelah sekian lamaaaaaaaaaaaaaa, akhirnya nulis lagi deh di blog ini….sory yah blog, gwe dateng ke lo kalo lagi gini aja…hehehe!!!! entah sok sibuk, ga punya waktu, ato emang waktu ini berputarnya aneh, yang pasti  gwe disini lagi bingung mau ngapain….

cuma satu paragraf doang…

biarlah! mudah2an dari satu paragraf ini akan ada beberapa paragraf lainnya…

sedang lelah, capek, pusing, marah, dan perasaan kesal yang tiada tandingannya….sepiiiii!!!!

Mungkin aku akan diam (selamanya) dan tunjukkan!

March 28th, 2009 by ayieph

“Kamu harus masuk IPA, kalo masuk IPA kamu bisa ambil jurusan yang IPS juga saat kuliah nanti,” ujar papa dan mama saat aku berada di bangku kelas 3 SMA.

“Yahh, nyari nilai di Unpad mah gampang, apalagi di FIKOM,” ujar beberapa teman.

“Skripsi kuantitatif mah kuno!” ujar dua dosen penguji saat aku sedang sidang skripsi.

“Sarjana gadungan!” ujar orang yang selama ini aku bela dan aku dukung, tapi malah mengaggapku sebagai pecundang.

Setiap orang memiliki talenta dan kepercayaan diri yang berbeda. Setiap orang juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda pula. Setiap orang memiliki pola pikir dan kepribadian yang berbeda. Dan setiap orang memiliki visi dan misi hidup yang berbeda pula. Tergantung permasalahan internal dan eksternal yang mengelilingi. Karena setiap orang memang berbeda. Kalau kata orang bijak, “serupa tapi tak sama”.  Aku pun begitu. Aku hidup dengan banyak kelebihan, dan tentu saja dibalik semuanya banyak pula kekurangan yang tiada batas.

Sejak aku kecil, aku hanya berusaha menjadi seseorang yang baik. Aku juga selalu berusaha menjadi seseorang yang bisa memperjuangkan segala hal yang patut aku perjuangkan. Di satu sisi aku pemaaf, tapi jika terlalu sering ada kata maaf, aku juga tidak bisa begitu saja memaafkan. Aku hanya tidak menginginkan kata “maaf” menjadi senjata yang diumbar tanpa mau memaknai arti “maaf” yang sesungguhnya.

Selama ini aku juga belajar menjadi seseorang yang kuat dan bisa menghadapi kenyataan. Terlebih lagi keluarga dan orang-orang yang aku sayang. Seringkali aku mendapatkan cacian dan makian. Cacian dan makian yang paling menyakitkan justru datang dari orang-orang yang sayang dan aku sayangi. Banyak orang yang bilang, mungkin di balik cacian dan makian, ada hal-hal yang aku picu sehingga cacian dan makian itu datang kepadaku. Semakin aku introspeksi diri dan memperbaiki diri, semakin dalam pula rasa kekecewaanku. Banyak orang yang hanya melihat aku disaat aku mengikuti kemauan mereka. Tapi dikala aku hanya ingin meminta dimengerti, semua orang terlihat acuh dan tidak menghiraukan perasaanku. Aku selalu ada dan berusaha ada buat mereka-mereka, tapi mereka-mereka tak pernah ada disaat aku membutuhkan mereka. Jadi, aku memilih jalanku sendiri. Aku akan diam dan kembali berusaha walaupun semua yang telah aku buat, perbuat, dan perjuangkan tidak pernah melihat apa yang telah aku lakukan.

Tidak bijak rasanya memaparkan apa yang telah aku perjuangkan, biarkan aku yang mengetahui saja. Sekarang, tiba saatnya untuk menunjukkan. Kalaupun nanti suatu hari aku tidak kuat menghadapinya, biarkan aku tertidur dan menghela napas panjang dan terus berharap jikalau aku ini memang seseorang yang juga pantas untuk diperjuangkan….

Sudut jiwaku yang terpojok

March 19th, 2009 by ayieph

Pagi ini tak beda seperti pagi-pagi sebelumya, terutama setiap pagi selama 4 hari ke belakang. Kegelisahanku teramat sangat menjadi-jadi ketika aku mengetahui bahwa jiwa yang ada di dalam ragaku ini sedang terpojok oleh sesuatu yang sangat memojokkanku. “Jiwa yang terpojok atau memojokkan jiwa bukan berarti tidak menerima apa yang seharusnya memang tidak diterima,” ujarku dalam hati. Yang jelas, kalau 6 tahun yang lalu banyak yang bilang aku ini selalu ceria, keceriaan itu setiap tahun menjadi semakin berkurang karena aku merasakan banyak kemunafikan dan ketidak adilan dalam hidup ini. Tapi aku bersyukur keceriaanku bisa timbul kembali sedikit demi sedikit selama 1,5 tahun kebelakang. Walaupun pada kenyataannya aku harus kembali mencari cara agar aku bisa tetap ceria di tengah perjuangan yang akan aku hadapi beberapa minggu, atau mungkin beberapa bulan ke depan.

Yahhh, inilah perjalanan hidup. Kadang-kadang aku mengerti, kadang-kadang aku juga tidak mengerti. Diantara banyak hal yang aku mengerti, ternyata setelah aku sadari, banyak sekali hal-hal yang tidak aku mengerti. Lalu apa lagi yang harus aku lakukan selain pasrah dan tetap berpegang teguh pada jati diri yang selama ini sudah aku bangun dengan susah payah? Aku memang bukan orang yang religius dalam melaksanakan ibadah, aku juga bukan orang yang pintar, bahkan aku juga bukan orang yang menguasai sebuah bidang tertentu dan menguasainya. Semua yang aku lakukan selalu aku korelasikan dengan akal, hati, dan pikiran sehat ku. Dengan sedikit “bumbu” pengetahuan yang aku punya, aku merasa aku telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak sulit untuk dihadapi dan dilalui.

Aku tidak suka berbicara dan berpikir tentang hal-hal yang sederhana, karena hidup ini tidak sesederhana yang kita kira. Sangat rumit, penuh teka-teki, dan butuh strategi untuk menghadapi peliknya kehidupan. Di balik itu, aku juga tidak suka berbicara dan berpikir tentang hal-hal yang sulit, karena hidup ini nyatanya memang tidak terlalu sulit untuk dijalani asalkan kita mau mengakui kelebihan dan kekurangan kita, berusaha, dan menunggu hasil usaha kita yang sering aku katakan sebagai proses hidup. Kini, ditengah nuansa hati dan jiwa yang terbelenggu oleh ketidak pastian, aku hanya bisa berharap, berharap, dan berharap. Aku selalu berpikir, harapan itu akan menjadi sebuah harapan jika tidak didukung oleh usaha dan doa. Tapi kini, setelah aku merasakan getirnya sebuah perasaan yang terombang ambing, aku mendapatkan satu hal lagi tentang sebuah harapan. Bukan sekedar berusaha dan berdoa, tetapi butuh keseimbangan. Keseimbangan yang bagaimana? Bukan, bukan itu! Yang aku maksud keseimbangan dalam mengontrol jiwa kita. Pikiran dan perasaan mungkin bisa dikontrol, tapi jiwa - menurutku- tidak bisa dikontrol begitu saja walaupun kita sudah terlatih dengan berbagai macam latihan dan cobaan yang berat. Bukan berat menurut siapa atau seperti apa, tapi berat menurut kita. Karena aku percaya, setiap orang pasti memiliki kemampuan dan batas yang tidak dimiliki orang lain. Artinya, setiap orang itu BEDA! Kecuali jika mereka tidak bisa berusaha keluar dan menyelesaikan masalah mereka.

Sudut jiwaku sedang terpojok. Aku belum tahu bagaimana aku bisa keluar dari keterpojokan jiwaku. Untuk itu, aku akan terus berusaha.

Arief Noerhidayat Hastowo

With Luv and Care

Kutuliskan sebuah mimpi, kugoreskan tanda di hati, usahaku mungkin berarti

March 18th, 2009 by ayieph

“Kata Ayah, mengalah bukan berarti kalah genduuutttt,” ujar sang kekasih tercinta menasehatiku dikala aku sedang merasa dunia ini tidak adil….

Aku ingin menangis. Aku ingin menangis. Aku ingin menangis. Aku ingin menangis. Tapi ketika aku ingin menangis, aku malah tidak bisa menangis. Sesak sekali rasanya. Lebih sesak daripada lari 5 putaran di Sabuga, atau setengah jam di trademill.

Huff, aku benar-benar tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi padaku. 2 bulan lagi aku harus pergi. 2 bulan adalah waktu yang sangat singkat untukku. Seharusnya aku bisa bercanda, tertawa, dan bisa merangkai cerita yang lebih ceria bersamanya. Tapi mengapa? Mengapa? Mengapa? dan Mengapa?

Temui aku, Bukalah hatimu, dan jadilah yang terbaik untukku!!!!

Sampah pun bisa di daur ulang….

March 17th, 2009 by ayieph

Menangislah, bila harus menangis karena kita semua manusia….

Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis, dan manusia pasti bisa mengambil hikmahnya…

(Dewa 19)

Aku mematikan telepon selulerku dan mencoba untuk tidak mengetahui apapun yang ada di luar kehidupanku. Aku sudah terlanjur menangis tanpa bisa menghentikannya, dan sudah terlanjur teriris oleh tindakan yang terus menerus membuatku rapuh. Aku mencoba untuk terus bersabar dan merenungi itu semua. Aku mencoba untuk bisa berpikir jernih dalam menghadapi hawa dunia yang akhir-akhir ini tidak menentu. Kadang panas, kadang dingin, kadang sejuk, kandang hangat, dan tak jarang dari kesemuanya itu berubah begitu cepat.

Sebagai seseorang yang belum memiliki apa-apa, rasanya aku terlalu baik dan terlalu berlapang dada dalam menghadapi kehidupan ini. Aku seperti sebuah produk yang digunakan ketika masih bernilai tinggi, kemudian ketika sudah tidak bisa lagi digunakan, atau mungkin bosan untuk digunakan, aku merasa dibuang. “Ah, mungkin tidak dibuang, tapi terbuang,” itu pikirku. Tapi lambat laun, aku merasa aku memang benar-benar telah dibuang. Walaupun aku telah merasa seperti itu, tetap saja kehidupan ini selalu bersyair bahwa itu hanyalah perasaanku saja. Masalah dibuang, terbuang, atau membuang, adalah sesuatu yang sangat esensial yang memang terjadi di dalam kehidupan ini. Inovasi adalah salah satu cara yang paling tepat untuk mempertahankan kualitas produk, walaupun produk itu tidak bisa lagi digunakan.

Sayangnya, jalan kehidupan ini tak selalu sama dengan teori-teori yang ada.Sampah tetaplah sampah.Sampai kapan pun akan tetap bernama sampah.Bukankah menyakitkan jika keberadaan kita di dunia ini dianggap seperti sampah? Aku yakin, banyak orang yang mengatakan bahwa tidak ada untungnya menjadi sampah.Tapi bagi orang-orang yang mengerti tentang kehidupan, sampah bisa menjadi inspirasi yang bisa membawa keteguhan hati manusia yang sombong, angkuh, dan tidak mau berkaca serta belajar terhadap baik buruknya keadaan dalam hidup ini. Aku sudah terlanjur menjadi sampah. Yah mau bagaimana lagi, saat ini aku hanya ingin mencoba menjadi sebuah sampah yang bisa bermanfaat oleh orang lain. Jikalau aku memang benar-benar dianggap sampah, yah minimal itu sebuah penghargaan buatku karena lagi-lagi aku harus berusaha menunjukkan bahwa aku ini adalah sampah yang bisa di daur ulang dan bisa bermanfaat. Dibandingkan barang-barang berharga yang hanya bisa dipajang dan hanya dilihat dari sudut prestise, diriku yang sampah ini bisa terus mencari cara bagaimana menjadi sampah yang baik dan benar…Tidak merugikan orang lain, menghargai orang lain, mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, dan selalu berusaha menjadi sampah yang bertanggung jawab….

Sampah pun bisa di daur ulang. Kini, tinggal tunggu waktu yang pas untuk mendaur ulang diriku sendiri. Sampah, sampah, sampah, sampah. Paling tidak aku berusaha menjadi sebuah sampah yang baik. Itu saja sudah cukup daripada aku harus dipajang, dipertontonkan, bahkan direbutkan dan dipermasalahkan oleh orang-orang yang matanya hanya melihat sesuatu dari sudut untung-ruginya saja.

Sebuah analogi kisah hidup bertema: “Kanker hati” menerpa

March 16th, 2009 by ayieph

“1 jam saja kutelah bisa cintai kamu, kamu, kamu di hatiku. Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup”.

Aku kurang begitu pasti kapan aku terjebak pada kenyataan bahwa aku sedang mengalami sebuah penyakit bernama “kanker hati”. Jam dinding di ruangan keluarga ku seolah-olah tidak bergerak maju. Cuma sesaat ketika aku mengetahui sebuah kenyataan. Tak lama, aku kembali melihat jam dinding itu. Entah mengapa, jam dinding itu bergerak cepat. Jantungku berdegup kencang tak karuan karena kembali mengetahui sebuah kenyataan. Aku mencoba bediam diri dan menenangkan semua pikiran negatif yang terus menghantui. Ketika itu pula, kenyataan kembali menerpa diriku. Aku melihat jam dinding ku seolah-olah bergerak lamban. Satu detik terasa seperti satu jam. Aku terjebak pada realita yang aku buat. Kini, apapun yang akan aku lakukan, semuanya tidak akan lepas dan selalu berhubungan dengan waktu. Waktu itu bernama akhir kehidupan yang tidak pasti kapan datangnya.

Selama ini mungkin aku terlalu memaksakan keadaan. Berharap aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi ternyata keadaan itu berbalik menjadi sebuah tekanan yang akhirnya membuat aku jatuh dan tidak ada satupun yang bisa menolongnya. Materi kehidupan yang telah aku kumpulkan sejak aku tersadar bahwa hidup ini harus bisa memiliki visi dan misi dan harus melewati proses, tiba-tiba hilang begitu saja dalam sekejap. Aku tak tahu mengapa aku mengidap sebuah penyakit yang aku buat sendiri. Apakah ada yang salah dalam hidupku? Atau, memang manusia memiliki batas untuk memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan? Atau mungkin, aku harus kembali menghadapi sebuah realita baru dengan kepala tegak dan dengan hati yang lapang untuk bisa tetap bertahan dengan kehidupan? Rasanya semua pertanyaan itu semakin sulit dijawab ketika orang-orang yang aku sayangi dan sayang padaku tidak mengetahui apa yang aku rasakan.

Kini, sulit bagiku untuk membedakan antara keadilan dan ketidakadilan. Aku merasa, hidupku hanya bergantung pada sesuatu yang tak pasti. Semua yang aku lakukan seolah sia-sia dan tidak memiliki arti. Aku selalu mendengar, menelaah, kemudian menerima jika ada argumen yang masuk akal. Walaupun aku merasa aku telah melakukan sesuatu yang benar, tapi ketika ada hal-hal yang menurutku salah, aku mau memperbaiki sesuatu yang aku anggap benar itu. Aku tidak mau merubahnya, tapi aku cenderung menjadikan apa yang aku anggap benar menjadi sebuah kebenaran secara umum. Bukan untuk diubah, tapi untuk diperbaiki.

Sampai detik ini pun aku merasa aku telah melakukan sesuatu yang benar. Aku berbeda dengan orang-orang lain, berbeda juga dengan orang-orang pada umumnya. Sungguh, aku berbeda. Di dalam modul cara hidup sehat, mungkin minum susu di pagi hari, makan tiga kali seahari dengan menu 4 sehat 5 sempurna, kemudian tidur lebih dari 6 jam setiap harinya adalah sesuatu yang harus dijalankan. Tapi, aku selalu bertanya, “haruskah aku selalu mengikuti modul tata cara hidup sehat”? Bukankah setiap manusia bisa beradaptasi dengan pola hidupnya sendiri? Sebagai contoh, manusia yang digeneralisirkan sebagai “orang gila” atau “orang dengan gangguan jiwa” bahkan banyak yang menyebutnya “orang yang tidak normal”. Mereka tidak mengikuti apa yang disarankan oleh modul cara hidup sehat. Tapi, mereka bisa hidup, bisa menikmati kenyataan, bisa menikmati dunia, bisa tersenyum, dan bisa tertawa riang. Analogiku terlalu tidak biasa memang, tapi jargon “orang gila” membuat orang-orang di sekitarnya membuat si “orang gila” ini tersingkir dari kehidupan masyarakat.  Padahal jika kita bisa sedikit belajar dan menelaah, sesungguhnya kita-kita ini lebih gila dari pada si “orang gila” itu. Mereka bisa lebih menerima kenyataan dibandingkan aku, kita, atau orang-orang pada umumnya.

Contoh lainnya, orang-orang yang hidup di daerah dusun atau pegunungan yang masih tradisionil. Mereka merokok, mereka bekerja berat, mereka memikirkan keluarga mereka, mereka makan seadanya yang tersedia di alam, mereka tidur telanjang dada, bahkan mereka tidak mengikuti modul kesehatan yang dibuat oleh dokter dan pakar-pakar kesehatan lainnya. Tapi mereka tetap hidup, merekat jarang sakit, mereka juga berumur panjang, mereka mau menikmati kehidupan, mereka mau berpikir dan mau menerima pikiran orang lain, mereka jarang mengidap penyakit mematikan, mereka juga jarang mengidap penyakit hati.

Kemudian contoh terakhir adalah bayi yang baru di lahirkan. Apakah bayi yang baru dilahirkan mengeluh karena mereka tidak bisa berbicara, tidak bisa berdiri, tidak bisa berjalan, dan tidak bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya? Walaupun secara nyata kita melihat mereka menangis, tapi kenyataan yang benar-benar nyata, mereka bertekad untuk berusaha dan melewati proses. Orang-orang di sekitarnya, ayahnya, ibunya, kakaknya, atau neneknya hanya menjadi pendukung sang bayi untuk menjalani proses. Walaupun sering jatuh saat belajar berdiri, walaupun terluka pada saat belajar berjalan, walaupun sulit dalam menyampaikan perasaan, tapi nyatanya sang bayi lebih bisa menghadapi kenyataan dan bisa lebih beradaptasi dibandingkan manusia dewasa pada umumnya. Kita pernah menjadi bayi itu, lalu kenapa kita banyak melupakan dan seolah tidak menerima adanya proses kehidupan?

Aku, kita, kalian? Cukup jelas. Biar kita semua menjawabnya dengan jawaban yang berbeda. Tapi satu hal, jawabanku selalu mengarah pada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sedikit banyaknya berbeda dari jawaban orang-orang pada umumnya. Karena aku percaya, setiap hidup ini adalah jawaban. Dan aku percaya, bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Jadi apa yang salah jika kita mau melakukan apa yang harus kita lakukan? Toh qur’an adalah pedoman dan modul kehidupan yang benar-benar nyata adanya.

Perlahan tapi pasti, banyak orang yang terlalu melihat perspektif kehidupan dari sudut manusia. Mereka lupa, bahwa ada perspektif yang sederhana, tapi seolah-olah dibuat sulit. Terkadang kita menyerah pada kenyataan yang tidak kita inginkan. Terkadang kita sulit menyampaikan apa yang kita rasakan. Dan terkadang kita tidak suka pada sesuatu yang sederhana. Dan seringkali kita tidak mau belajar dari kesalahan diri kita sendiri. Dan seringkali pula kita cenderung tidak belajar dan menghargai kesuksesan yang kita buat sendiri. Kita cenderung belajar dari kesalahan orang lain. Kita selalu belajar dari kesuksesan orang lain. Kita selalu menuruti sesuatu yang sebenarnya membuat kita tidak nyaman. Dan kita selalu mengotak-kotakkan kotak yang dibuat oleh orang lain. Kita lupa bahwa ada kotak istimewa yang telah diajarkan rasulullah SAW dan qur’an. Kita sering berbicara dalam ranah agama dan ketuhanan, tapi kita selalu mempersulit keadaan.

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun dan rasanya cukup untuk memikirkan adil atau tidak adilnya kehidupan. Aku sudah menderita karena selalu menerima permintaan maaf dari orang lain. Aku selalu percaya bahwa setiap orang yang meminta maaf akan berubah. Dan aku selalu menerima kembali jika ada orang yang ingin memutuskan untuk kembali. Aku pun sering tidak menghiraukan diriku sendiri padahal aku sering disakiti. Cukup sudah, kini aku sudah lelah. “Kanker hati” sudah menerpa hidupku. Aku tidak mau melihat kebelakang. Aku hanya ingin meneruskan sisa hidupku dengan caraku sendiri. BIarlah orang berkata apa, biarlah orang menasehati dengan cara mereka, dan biarlah aku seperti ini. Aku sudah cukup bangga bisa selalu ada untuk orang-orang yang aku sayang. Kini saatnya aku memikirkan diriku sendiri sambil berharap orang-orang yang aku sayang dan sayang padaku sadar tentang satu hal, “orang yang sangat sayang padanya sedang mengidap “kanker hati” kehidupan”. Maafmu, maaf kalian, selalu aku terima. Aku pun selalu memaafkan. TApi maaf, maaf saja tidak cukup untuk membuat penyakitku sembuh. Yang bisa menyembuhkan penyakitku adalah orang yang kusayang dan sayang padaku bisa lebih menghargai hidupnya, dirinya, dan bisa menghargai keberadaan ku….

“Kanker hati” menerpa? yah, inilah kenyataan. Ada saatnya orang terdiam. Mungkin sebentar, mungkin lama. Ketika aku terdiam sesaat dan memutuskan untuk kembali “ada”, aku selalu belajar dan beradaptasi dengan kenyataan yang harus aku pelajari. Tentang kamu, mereka, dan orang-orang. TApi ketika aku kembali terdiam dan tak tahu kapan memutuskan untuk kembali “ada”, itu artinya sudah saatnya kamu, mereka, dan orang-orang belajar dari kesalahan.

“Dan ku ingin kau mengerti saat ku ada di persimpangan jalan, rasa. Dan kuharap kau mengerti saat ku ada di persimpangan jalan, cinta” (Comes to Arra - Ayieph)

Selamat malam, semoga belum ada yang terlambat!

hidupku melangkah maju, tapi perasaanku melangkah mundur….

March 5th, 2009 by ayieph

firstly, assalamu’alaikum wr.wb….

gilaaaaaaaaaaaa banget, udah lama banget gwe ga nulis blog….terakhir pas gwe ulang taun september 08 lalu…wuihhh, banyak banget moment2 yang terjadi uyyy….

yahhh, udah lama juga gwe ga nulis ato ngerjain tugas jurnalistik. jadi mungkin gwe menulis dengan gaya sebebas-bebasnya, sesuai dengan apa yang ada di hati dan otak gwe….

beberapa bulan ini gwe menggalaw ga jelas, merasa hidup ini ga fair, merasa semuanya itu sangat tidak bertanggung jawab dan tidak jujur sama gwe, dan yang lebih penting lagi, gwe semakin bertanya-tanya tentang kenapa hidup ini ada? yah, pertanyaan bodoh memang, karena pada kenyataannya keberadaan kita di dunia ini untuk menemukan sesuatu yang berdasarkan pada rahmatan lil alamin….gwe ketemu keluarga gwe, gwe ngerasain manis paitnya hidup, gwe ketemu orang-orang yang pernah ada di sekitar gwe, sampe akhirnya gwe ada di posisi bingung seperti sekarang yah semuanya adalah skenario kehidupan….bener ga ya? gwe juga ga tau sih….cuma katanya hidup ini indah….tapi sampai sekarang gwe belum menemukan makna dari hidup indah….semua yang ada cuma sesaat bahagianya, tapi berkepanjangan menyiksannya….

yah, itu yang pertama….

lalu?

yah, gwe udah lulus….so? jujur aja gwe ga ngerasain apa-apa….semuanya terkesan biasa aja….yang paling bisa bikin gwe sedikit tersentuh, yah keluarga gwe bisa seneng ngeliat gwe jadi sarjana…padahal gwenya sendiri ga ngerasain apa-apa…biasa dan sangat basi banget….sumpah! apalagi kalo gwe inget-inget perjalanan kuliah gwe, ngerjain tugas2 berat dari jurusan jurnalistik, sampe akhirnya job training, terus seminar, usmas, sampe akhirnya skripsi dan kemudian disusul sidang kompre dan skripsi, gwe ngerasa SENDIRIAN!!! SUMPAH SENDIRIAN!!! ga ada yang nyuport gwe, ga ada yang dukung gwe, ga ada yang mengerti gwe….sampe sekarang, itu yang gwe ga nyangka…. so? jadi apa indahnya hidup? sneng sesaat, gwe mencoba bersyukur, gwe mencoba mencurahkan dan meluangkan seluruh waktu, pikiran, dan tenaga gwe buat orang-orang yang gwe sayang, tapi apa? SEMUANYA BASI!!!!

terakhir (karena gwe dah emosi banget dan bingung mau mencurahkan isi hati gwe sama siapa lagi):

“DISATU SISI GWE PENGEN CEPET2 PERGI, PENGEN NUNJUKIN KE SEMUA ORANG KALO GWE TUH BISA MENJADI SESEORANG….GWE JUGA PENGEN MEREKA2 YANG UDAH MENYIA-NYIAKAN GWE DAN MENGHIANATI GWE TAU GIMANA RASANYA KEHILANGAN SESEORANG”

tapi di satu sisi lagi…..

“GWE JUGA MASIH BELUM NERIMA REALITA YANG ADA INI…KENAPA JALAN IDUP GWE KAYAK GINI?”

overall, saat ini gwe lagi dalam posisi sangat jenuh…gwe merasa dibohongi…gwe ngerasa dikhianati…dan perasaan-perasaan lainnya….emosi gwe sedang tinggi2nya…pikiran gwe kacau…cuma satu hal yang bisa ngebuat gwe inget: “PEMBUKTIAN” yang mengarah pada “Sebenernya orang-orang yang mau usaha, pasti bisa lebih baik dari pada orang yang emang udah punya talenta…” apa sih yang dicari dari hidup? untuk cewe mungkin suami yang tajir, bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, berpengalaman, apa-apa bisa didapatkan dengan mudah, dan everything yang mengarah pada prospek lah….kalo cowo apa? yah biasanya mengumpulkan pundi2 uang, menggunakan kepintarannya untuk sesuatu yang naif buat mereka, tapi mereka ga mau ngakuin…gwe tau banget tentang itu…mungkin gwe masuk ke dalam manusia yang munafik, tapi gwe bisa bilang juga kalo buanyakkkkk orang-orang yang jauh lebih munafik dan brengsek…dan sayangnya dan tidak adilnya, mereka2 yang munafik dan berengsek itu lah yang bisa menguasai keadaan….TAI banget kan? liat aja realita secara general….jangan ada yang sok2an mendebat gwe dah…jangan-jangan kalian yang mendebat gwe itu merasa tersinggung….

yahhh, terlalu naif gwe ngomong kayak gini emang…tapi kan tadi di atas dah gwe bilang kalo gwe pengen nulis sebebas2nya….gwe ga pengen apa2…gwe cuma pengen jadi orang baik…tapi kata nyokap, gwe terlalu baik…tapi bukan berarti gwe baik lalu gwe gampang dibego2in…gwe salalu membuka pintu hati dan percaya setiap oran gpasti berubah….mau keluarga gwe kek, pacar gwe kek, sobat gwe kek, temen gwe kek, dll…tapi apa yang gwe dapet? NEVERRRRR!!!!!!!!!!!

yahhhh, doa gwe, semoga gwe cepet2 pergi dan semua orang-orang yang gwe tinggal NYESEL karena pernah memperlakukan gwe secara tidak adil!!! buat apa lo2 pade punya mata, telinga, mulut, tapi semaunya kaga dipake…MANE HATI LU???? BRENGSEK!

akhir kata, wabillahitaufiq walhidayah

Assalamualaikum Wr.Wb…

University of Leeds, i will come to you…

WAIT AND SEE!!!

lagi-lagi perasaan gwe ga jelas, bingung, dan takut!

December 27th, 2008 by ayieph

ahhhh, seminggu ini gwe bener-bener aneh….yang ada di otak ma hati gwe cuma takut, bertanya-tanya, bingung, dan hal-hal lainnya yang ngebuat gwe sakit sendiri….Bingung gwe….kenapa sih “begini”, kenapa sih “begitu”, ada apa sih “ini”, ada apa sih “itu”, kenapa ga “gini”, kenapa ga “gitu”, dan semacamnya….

gwe ngerasa waktu cepet banget berlalunya….selama 3 tahun terakhir ini gwe menjadi orang yang sangat optimis, cenderung egois, ga pedulian, dan sangat-sangat ambisius….tapi kenapa semingguan ini gwe jadi seseorang yang ga jelas? takut, lemah, sakit, dan down? masak sih, gwe harus “berpetualang” lagi? mungkin petualangannya bener-bener sendiri….tapi ini kan pilihan gwe sejak lama? kenapa gwe jadi takut?

jujur aja, yang paling berat buat gwe sih harus berkorban perasaan!!!!di saat gwe ngerasa udah dapetin yang terbaik, gwe harus memilih….bukan gwe yang memilih, tapi gwe harus memilih keinginan keadaan!!!!! ga fair kan?

gwe dah coba muter kepala gimana caranya biar gwe tetep sama dia, tapi pilihan gwe ternyata buntu….yah, jadi apa mau dikata, gwe dan dia tinggal kayak bom waktu aja…berat banget euy! tapi gimana yah? ya gwe ga boleh kalah….smuamuanya udah dipersipin sejak lama….sama gwe sendiri, sama mama papa…masak gwe kalah? tapi GIMANA? GIMANA? dan GIMANA? itu masalahnya!!!!!

23:12 (menuju 23 tahun)

September 5th, 2008 by ayieph

5 September 2008

gwe sedang membayangkan, apa yang terjadi pada tanggal 5 September 1985? Yang ada di bayangan gwe, nyokap lagi menunggu saat-saat dilahirkannya gwe ke dunia ini….Gwe sendiri ga tau apa yang gwe lakuin sehari sebelum gwe dilahirkan…Mungkin gwe menendang-nendang perut nyokap dan berusaha keluar dari perutnya, atau mungkin gwe merenung mengapa gwe akan dilahirkan, atau mungkin lagi gwe justru terharu karena pada akhirnya gwe akan dilahirkan ke dunia ini dengan belaian kehangatan kasih sayang kedua orang tua gwe…

Jujur aja, sampai sekarang gwe masih bertanya-tanya, Mengapa gwe ga tau semua kejadian yang gwe alami waktu gwe masih jadi bibit di bulan pertama saat nyokap mengandung, sampai bulan ke sembilan sesaat gwe akan keluar….Yah, banyak opsi sih tentang hal tersebut, tapi yang pasti, mau ga mau gwe harus mensyukuri keberadaan gwe saat ini dengan segala kelebihan dan kekurangan yang gwe punya, keluarga gwe punya, dan yang dipunyai orang-orang yang sayang sama gwe karena udah mendedikasikan banyak waktunya buat gwe….

23 Tahun, apa yang akan terjadi?

Pertanyaan itu yang selalu ada di pikiran gwe…Mau gwe lupain, tapi pikiran itu terus menghantui….Gwe juga ga tau, Allah memberikan gwe keistimewaan apa…Tapi yang jelas, waktu SMA, gwe pernah bermimpi dan berfirasat bahwa di umur 23 tahun akan terjadi sesuatu….Waktu SMA - kalo ga salah kelas 2 - juga gwe membicarakan hal ini ke nyokap, sewaktu gwe nganterin dia ke kantor….Gwe masih inget, waktu itu gwe ada di tol kebon jeruk yang mau ke arah meruya….gwe naik mobil kijang biru….Gwe cerita banyak sama nyokap tentang hal itu….Entah nyokap gwe masih inget apa nggak tentang hal itu….Terus, karena gwe ngerasa hampa, gwe coba cerita lagi ke sahabat gwe….tapi mereka cuma bisa bilang, “ah, pikiran lo macem-macem aje rif”….Lalu, pas kuliah, gwe juga cerita tentang hal ini ke temen baik gwe satu-satunya di Unpar berinisial “A-I”….Dia sedikit diplomatis mendengarkan cerita gwe ini….terus kira-kira waktu semester awal di UNPAD, gwe merasakan ketakutan yang luar biasa….seolah-olah gwe dikejar sesuatu gitu…Tapi ternyata, alhamdulillah cuma stress belaka…dan gwe bisa melewati itu semua dengan sebuah hikmah yang ga bisa gwe ceritain di sini….akhirnya, pergilah gwe ke rumah Allah sendiri…dan disanalah gwe mendapatkan ketenangan batin….

Lalu, semakin hari umur gwe semakin bertambah…dari umur ke-20, menuju umur ke-21, menuju lagi ke umur-22…Alhamdulillah ga ada apa-apa…saat-saat itulah gwe mulai tertutup sama lingkungan sekitar gwe…Sampe-sampe gwe mendefinisikan beberapa tipe hubungan, diantaranya: relasi / teman, teman baik, sahabat, kekasih, dan hubungan darah (keluarga)…Kenapa gwe seperti itu, gwe juga ga bisa cerita banyak di sini…Tapi orang-orang yang deket sama gwe pasti tau kenapa gwe mendefinisiakn hal itu…Di masa-masa tersebut (dari umur 20-22), gwe mencoba mencari “teman” yang spesial, yang bisa nemenin gwe - sehati dan bisa mengerti gwe. tapi apa? semuanya selalu gagal….Gwe cuma berspekulasi doang….yang penting ada yang bisa nemenin gwe nelpon, makan di luar, ato sekedar nonton bioskop kalo gwe lagi bosen banget di rumah….Yahhh, beberapa “pertemanan” itu ada yang gwe jalanin, ada juga yang nggak (alias ditolak)…Tapi gwe ga terlalu gimana-gimana….sedikit minder sih ada….tapi yahhh, lambat  laun perasaan itu  ilang dengan sendirinya….

Sampai akhirnya…..I found her in my LIFE!!!!

Yup, Maharani Putri!!!

Lalu, bagaimana dengan umur gwe yang ke-23 ini? akankah firasat dan mimpi gwe itu menjadi kenyataan?? Ya allah, JANGAN!!! JANGANNNNN!!!!!

Dia selalu ada buat gwe

Alhamdulillah, Allah memberikan dia!!! selama hampir 10 bulan di umur 22 tahun, Maharani Putri selalu ada buat gwe…mulai dari kita sekedar temenan, sahabatan, sampe akhirnya Allah menunjukkan jalan kalo kita memang harus saling menemani dan ditemani….Sampai akhirnya Allah juga menunjukkan jalan kalo kita memang harus menjadi sepasang kekasih….

Yahhh, cerita tentang kita berdua, juga ga bisa gwe ceritain di sini….cukup gwe dan dia yang tau….yang jelas, begitu banyak kenangan indah sama dia…Dan yang pasti juga, dia kekasih dan pacar terlama dalam hidup gwe sampai detik ini!!!

Mas Gendut Sayang AYANG!!!!

Gwe pengen dia jadi istri gwe kelak!!!Gwe berusaha, gwe harus melewati proses!!!Walopun gwe dan dia seumur, dan untuk ukuran cewe dia sudah berumur, tapi gwe bakal perjuangin!!! Semoga dia juga mau memperjuangkan gwe!!!


Berkaca dari kisah-kisah di Umur 22

gwe suka angka 4….ada makna tersendiri buat gwe di umur gwe yang jumlahnya 4 ini (2+2 kan 4)….Gwe punya pacar yang suka juga sama angka 4…Perbedaan bulan kelahiran gwe ma putri beda 4 bulan (gwe september 1985, dan dia januari 1986). Di umur gwe yang ke 22, gwe 2 kali ada di bulan ramadhan (ga ada hubungan langsung sih, tapi selain 1 + 3, 3 + 1 sama dengan 4, cuma 2 angka kembar itu kalo dijumlahkan hasilnya 4)…dan masih banyak lagi hal lainnya….Itu filosofi gwe…kalo kata Deno, temen gwe di jurnal, setiap orang memiliki filosifinya sendiri….walopun gwe bukan marx, aristo teles, plato, ato ibnu sina sekalipun, gwe ya gwe…hidup ya hidup gwe….jadi ya bebas gwe mau berfilosifi ria dlam hidup gwe…

Tapi ada hal yang menyedihkan di umur gwe yang ke 22 tahun ini, gwe mengalami “perulangan” keadaan, yang pernah gwe rasain waktu SMA…Sedih, sakit, takut, kecewa, pengen teriak, pengen berontak, dll…beberapa diantaranya udah gwe tulis di blog gwe tercinta ini….sisanya, yahhh, cuma orang-orang yang mengetahui kisah gwe aja yang tau betul apa sih “perulangan” keadaan itu…dan yang selalu menjadi tempat curahan hati gwe siapa lagi kalo bukan Maharani Putri…

Yahhh, someday, tulisan singkat ini bisa mengingatkan gwe kelak alias sebagai kisi-kisi buat gwe untuk menceritakan ulang kisah perjalanan hidup gwe…Tapi sore gwe liat di Tivi, katanya: orang yang berhenti berharap, berhenti pula kehidupannya….Kata-kata itu menyentuh hati gwe, dan menyadarkan gwe bahwa: ternyata selama hidup ini, gwe cuma bermodalkan harapan…dan alhamdulillah, dari jutaan harapan yang gwe harapkan, ada beberapa yang terwujud….Jadi, gwe mau coba berharap lagi, dan mencoba menghayal lagi walaupun apa yang gwe khayalin itu ga mungkin terealisasikan….

Akhir kata, di umur gwe yang akan 23 ini, gwe berharap:

1. Gwe lulus bulan November

2. Gwe bisa S2 di Inggris, kalo lancar di University of Leeds

3. Hubungan gwe ma Maharani Putri baik2 aja dan ga ada kata perpisaham walaupun kalo gwe jadi sekolah di Inggris kita berpisah…(berharap gwe menikahi dia euy)

4. Berumur panjang

5. Dan menjadi manusia yang lebih berkualitas dari segi mental, intelektualitas, dan religi

6. Punya bisnisan sendiri dehhh…modal gwe kalo2 ga ada perusahaan yang mau nerima gwe…

Selamat tinggal umur 22 tahun…

Selamat tinggal kenangan yang baik dan buruk di umur 22 tahun

Semoga gwe menjadi lebih baik lagi

Robbana Atina Fidunya Hasanah…

Wafil Akhirati Khasanah

Waqina Azabannar!!!

Mas Gendut sayang Ayang

Arief sayang MamaPapaKikiAis

Arief sayang Avis

Semoga ga ada yang berubah, dan kita semua bisa bersama-sama dengan keadaan gwe yang jauh lebih baik!!!